🦔 Hadits Anas Bin Malik 72
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
Di antara Hadits-Hadits yang diriwayatkannya ada juga yang ditulis oleh para ulama yang menerimanya, seperti Sa‘id bin Jubair, Abd al - Aziz bin Marwan, Abd al-Malik bin Marwan, dan Nafi‘ (maula-nya) 3. Biografi Anas bin Malik 6 Arifin. 7 Sulaemang L, Ulumul Hadits Edisi Kedua, (Sulawesi Tenggara: Penerbit AA-DZ Grafika, 2017) Hlm. 222-223.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah menjelaskan lima ujian yang dihadapi seorang mukmin: “Dari Anas bin Malik RA, yang berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap mukmin dihadapkan pada lima ujian, yaitu mukmin yang menghasutnya; munafik yang membencinya; kafir yang memeranginya; nafsu yang menentangnya; dan setan yang selalu menyesatkannya”.
Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ
3 Anas bin Malik (wafat 91 H) Disebutkan bahwa hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik mencapai 2286 hadits. Anas bin Malik ini adalah asisten Nabi, dan tentu mengetahui banyak hal yang dilakukan Nabi di rumah dan dalam berbagai kesempatan. Sebagaimana diakui oleh Anas bin Malik, bahwa ia membantu Nabi tak kurang dari sepuluh tahun sejak masa
Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terbagi atas tujuh puluh satu golongan. Dan sesungguhnya umatku kelak terbagi atas tujuh puluh dua golongan. Semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan saja, yaitu Al-Jama’ah.'” (HR. Ibnu Majah) Hadis 4
Takhrij Hadits. Hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu dengan lafaz tersebut di atas diriwayatkan Imam Muslim dalam ash-Shahih (4/2268 no. 2951) dari jalan Abu Ghassan al-Misma’i, dari Mu’tamir bin Sulaiman bin Tharkhan, dari bapaknya, dari Mabad bin Hilal al-Anazi, dari Anas bin Malik radhiallahu anhu.
Telahmenceritakan kepada kami [Zaid bin Ahzam Ath Tha`i] telah menceritakan kepada kami [Abu Daud] dari [Syu'bah] dari [Jabir] dari [Abu Nahsr] dari [Anas radliallahu 'anhu] dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memberiku julukan dengan buah yang pernah aku petik." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahui kecuali dari hadits Jabir Al Ju
1. Hadits Anas bin Malik, ia berkata, telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam : “Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf-shaf termasuk menegakkan shalat (berjama’ah)”. Dan dalam lafadh lain : “…Karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat (berjama’ah).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
X1ktpfq. Anas bin Malik Ahli Hadits dan Khadam Rasulullah Oleh A. Fatih Syuhud Anas bin Malik adalah Sahabat Ahli Hadits yang menempati ranking ketiga sebagai muhaddits yang paling banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar. Tak kurang dari 2286 hadits telah diriwayatkannya. 180 hadits disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhari dan Muslim. 80 hadits disahihkan oleh Bukhari. Dan 90 hadits disahihkan oleh Muslim. Salah satu faktor penting yang membuatnya produktif adalah kedekatannya dengan Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa dimengerti mengingat dia adalah khadim pembantu rumah tangga Rasulullah. Itulah sebabnya ia dengan bangga menyebut dirinya sebagai Khadimur Rosul. Ibunya memberikan Anas pada Nabi sebagai khadam sejak ia masih kecil. Anas bin Malik lahir 10 tahun sebelum hijrah atau sekitar tahun 612 Masehi. Nama lengkapnya adalah Anas bin Malik bin Nadar Al-Khazraji Al-Anshari dengan julukan kuniyah Abu Hamzah. Ia menjadi Sahabat Nabi yang paling panjang umurnya dan saat ia wafat pada tahun 712 Masehi atau 93 Hijriah ia menjadi Sahabat Nabi yang terakhir di makamkan dalam usia yang cukup panjang yakni 103 atau 107 tahun.[1] Anas bin Malik meriwayatkan banyak hadits tidak hanya langsung dari Rasulullah tapi juga dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Muadz, Usaid bin Hudair, Abu Talhah, Ummu Sulaim binti Malhan ibunya sendiri, Ummu Haram bibinya, Ubadah bin Ash-Shomit, Abu Dzar, Malik bin So’soah, Abu Hurairah, Fatimah binti Rasulillah, dan lainnya.[2] Sedangkan yang meriwayatkan hadits darinya juga tak kalah banyak baik dari kalangan sesama Sahabat maupun Tabi’in. Mereka antara lain Al-Hasan, Ibnu Sirin, Al-Sya’bi, Abu Qilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit Al-Bannani, Bakar bin Abdullah Al-Muzani, Al-Zuhri, Qotadah, Ibnul Munkadir, Ishaq bin Abdullah bin Abu Tolhah, Abdul Aziz bin Shuhaib, dan lainnya.[3] Sejak Rasulullah hijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi, Anas selalu bersama Nabi di manapun dan kapanpun. Nabi adalah seperti ayahnya, guru, sahabat, pendidik murabbi dan segalanya bagi Anas. Anas berkisah tentang pertemuan pertamanya dengan Nabi dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – المدينة وأنا ابن ثمان سنين ، فأخذت أمي بيدي ، فانطلقت بي إليه ، فقالت يا رسول الله ! لم يبق رجل ولا امرأة من الأنصار إلا وقد أتحفك بتحفة ، وإني لا أقدر على ما أتحفك به إلا ابني هذا ، فخذه ، فليخدمك ما بدا لك . قال فخدمته عشر سنين ، فما ضربني ، ولا سبني ، ولا عبس في وجهي Artinya Rasulullah datang ke Madinah saat aku berusia delapan tahun. Ibu memegang tanganku dan membawaku padanya. Ibuku berkata Wahai Rasulullah, tidak ada satupun lelaki dan wanita Anshar yang datang padamu kecuali mereka memberimu hadiah. Aku tidak mampu memberimu hadiah kecuali anakku ini. Ambillah dan jadikan dia pembantumu. Anas berkata Aku mengabdi pada Nabi selama 10 tahun. Selama itu dia tidak pernah sekalipun memukulku atau mencaciku atau berwajah muram padaku.[4] Anas bin Malik bukan hanya seorang ulama ahli hadits, dalam bahasa Al-Dzahabi ia adalah seorang imam, mufti ahli pemberi fatwa hukum syariah, muqri’ yang bagus bacaannya, muhaddits ahli hadits, dan periwayat Islam.[5] Mengapa Anas bin Malik dapat menjadi seorang ulama ahli hadits dengan keilmuan mendalam di bidang ilmu agama yang lain juga? Kecerdasan dan kerajinannya tentu tidak perlu disangsikan lagi. Karena dua hal ini menjadi dua syarat mutlak yang diperlukan untuk suksesnya seseorang mencapai kedalaman ilmu tingkat tinggi. Namun, selain itu tentu ada ciri khas lain yang dimiliki Anas. Pertama, kemampuannya menulis. Saat Anas diserahkan ibunya pada Rasulullah dalam usia di bawah 10 tahun, ibunya menceritakan pada Nabi bahwa Anas bisa menulis. Ini merupakan keistimewaan Anas yang tak banyak dimiliki oleh para Sahabat lain saat itu. Apalagi kemampuan itu diilikinya pada usia yang sangat belia. Kemampuannya menulis ini dimanfaatkan Anas sebaik-baiknya untuk mencatat ilmu yang dia dapat dari Rasulullah maupun dari para Sahabat yang lain. Kedua, kedekatannya dengan guru. Rasulullah dalam hal ini adalah sumber ilmu utama. Kebersamaan Anas secara terus menerus dalam waktu yang lama membuatnya memiliki akses tak terbatas terhadap ilmu. Anas menyertai Rasulullah kemanapun Nabi pergi dengan penuh antusias, rasa syukur dan bahagia. Potensi ilmu yang akan didapat seseorang tidak akan maksimal tanpa semangat yang tinggi dalam mencarinya. Dan semangat yang tinggi itu sulit didapat kalau kita tidak bahagia dalam melakukannya. Ketiga, pengabdian pada guru. Sebagai khadam Nabi, Anas selalu bersama Nabi tidak hanya untuk menimba ilmu, tapi juga mengabdi dan melayani Rasulullah. Dan itu dilakukannya dengan penuh rasa bangga. Dalam banyak kesempatan jauh setelah Rasulullah wafat, Anas selalu menyatakan bahwa ia adalah khodimurrosul’ pelayan Rasulullah. Menjadi pelayan guru merupakan simbol atas kerendahan hati seorang pencari ilmu. Ilmu bisa saja dicapai tanpa kerendahan hati. Tapi ilmu yang dimiliki dengan cara penuh kerendahan hati, akan lebih berpengaruh pada kepribadian pemilik ilmu tersebut kelak ketika ia menjadi seorang ulama. Ketiga, peran seorang ibu. Dalam kasus Anas bin Malik, peran ibunya sangatlah besar. Keputusan ibunya untuk menyerahkan putranya pada Nabi merupakan keputusan besar yang merubah hidup Anas. Begitu juga, kemampuan Anas dapat menulis dan membaca pada usia dini tak lepas dari peran ibunya.[] FOOTNOTE [1] Al-Anshari berkata terdapat perbedaan pendapat dalam soal usia Anas. Sebagian mengatakan 103 tahun sedangkan pendapat yang lain menyatakan 107 tahun. Lihat, Ahmad Al-Bushiri, Ithaf Al-Khirah, hlm. 7/90. [2] Al-Dzahabi, Siyar Al-Nubala, hlm. 3/396. [3] Ibid. [4] Abul Hajjaj Al-Muzi, Tahdzib Al-Kamal, hlm. 3/364. [5] Al-Dzahabi, Siyar Al-Nubala, hlm. 3/396.
Origin is unreachable Error code 523 2023-06-15 004657 UTC What happened? The origin web server is not reachable. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Check your DNS Settings. A 523 error means that Cloudflare could not reach your host web server. The most common cause is that your DNS settings are incorrect. Please contact your hosting provider to confirm your origin IP and then make sure the correct IP is listed for your A record in your Cloudflare DNS Settings page. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d76cc6b18f9b8c6 • Your IP • Performance & security by Cloudflare
Setelah Nabi Muhammad wafat, penyebaran Islam berlangsung dari sahabat ke generasi setelahnya, yaitu para tabi’in. Ajaran-ajaran Nabi yang belum secara rapi dan sistematis disampaikan para sahabat yang juga menyebar ke berbagai daerah di luar Mekkah dan Madinah melalui penyampaian hadits tanpa sistematika. Sebagai contoh, sahabat Anas bin Malik RA yang menetap di Basrah, menjadi guru salah satu tabiin kenamaan bernama Hasan Al-Bashri. Penyampaian ajaran Nabi ini pun berlanjut ke generasi tabi’ut tabi’in. Kendati beberapa hadits telah dicatat oleh para sahabat, sebagaimana dikumpulkan dalam catatan-catatan shahifah para sahabat, hadits-hadits Nabi tersebut belum tersusun sistematis. Generasi ketiga ini, memulai tradisi penyusunan kitab mushannaf berdasarkan masalah-masalah hukum dan ibadah. Salah satu tokoh tradisi penyusunan kitab mushannaf yang terkemuka adalah Imam Malik bin Anas wafat 179 H, melalui kitabnya Al-Muwaththa’. Penyusunan kitab hadits ini berdasarkan hukum-hukum fiqih. Selain berdasarkan hadits Nabi, Imam Malik bin Anas juga merujuk komentar para sahabat maupun tabiin, para ulama di Madinah, atau pendapat dari Imam Malik bin Anas sendiri. Perlu dicermati bahwa mushannaf acap kali mencantumkan hadits-hadits yang sanadnya tidak lengkap, menggunakan keterangan sahabat atau tabiin, atau langsung menyandarkan riwayat kepada Nabi. Hal ini mengingat bahwa tradisi pencantuman sanad secara lengkap belum populer saat itu. Kendati demikian, Imam Malik bin Anas tetap mencantumkan hadits-hadits yang beliau nilai sahih melalui standar yang ketat. Penulisan mushannaf Ibnu Juraij wafat 150 H disebutkan lebih terdahulu dibanding Imam Malik bin Anas. Selanjutnya, murid-murid Imam Malik bin Anas dan Ibnu Juraij seperti Abdur Razzaq As-Shan’ani, Ma’mar bin Rasyid dan Abu Bakr bin Abi Syaibah juga menyusun kitab mushannaf. Peran kitab mushannaf ini penting menjadi peranti menilai hadits yang menjadi dasar hukum di masa dan daerah tertentu. Hadits dalam Kitab Al-Muwaththa’ dicatat oleh Imam Malik bin Anas tak lepas dari peran beliau sebagai seorang imam mazhab di Madinah. Karena itu, disebutkan bahwa riwayat hadits dari ulama negeri lain seperti Irak, Mesir dan Syria, belum banyak terhimpun dalam Kitab Al-Muwaththa’. Generasi penulis kitab mushannaf ini menjadi pelopor penulisan hadits secara lebih terstruktur, yang dalam masa selanjutnya memiliki banyak perkembangan. Semisal jenis musnad yang dikembangkan berdasarkan sanad, karena kebutuhan kajian hadits dengan sanad yang lebih lengkap, atau jenis shahih yang telah menggunakan standar keabsahan hadits yang lebih ketat dan banyak digunakan sebagai rujukan fiqih. Sebagai generasi yang lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW, hadits yang dicatat dalam jenis kitab mushannaf ini penting untuk menjelaskan berbagai ajaran Nabi yang dirujuk generasi awal sepeninggal Rasulullah SAW. Wallahu a’lam. Ustadz Muhammad Iqbal Syauqi, pegiat kajian hadits dan alumnus fakultas kedokteran UIN Syarif Hidayatullah.
hadits anas bin malik 72